Gigitan nyamuk mengganggu sistem kekebalan tubuh

Gigitan nyamuk tak sekadar menimbulkan rasa gatal yang bertahan lama tapi juga bisa mendatangkan penyakit, bahkan seminggu setelah Anda digigit.

Musim panas di sebagian besar wilayah Indonesia telah dimulai. Artinya serangga yang kecil tapi berbahaya ini siap merajalela.

Nyamuk lebih dari sekadar gangguan. Di seluruh dunia, 750 ribu orang per tahun meninggal karena penyakit yang ditularkan nyamuk. Sebut saja malaria, demam berdarah, West Nile, Zika, dan demam chikungunya.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases, mengungkap bahwa ulah nyamuk lebih dari sekadar mentransmisikan infeksi. Air liur nyamuk memperburuk beberapa penyakit ini, dan infeksi yang disebabkan oleh gigitan nyamuk sering lebih parah daripada infeksi serupa misalnya yang disebabkan oleh jarum.

Bahkan ketika nyamuk tidak membawa infeksi, ludah serangga ini mengandung ratusan protein yang dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia. Efeknya bisa menyebabkan peradangan yang tidak hanya gatal, tetapi juga membantu potensi virus berkembang biak dan cepat menyebar ke bagian tubuh lain.

Kini, lewat sebuah penelitian baru, para ilmuwan telah menunjukkan bahwa dampak saliva atau liur nyamuk bertahan lebih lama dari yang diperkirakan.

Rebecca Rico-Hesse, ahli virologi di Baylor College of Medicine di Houston, Texas, ingin mencari tahu bagaimana nyamuk mengeksploitasi sistem kekebalan tubuh manusia dengan air liur mereka. Jadi, dia dan timnya bereksperimen dengan tikus.

Peneliti menyuntikkan sel-sel induk hematopoietik manusia pada tikus. Alhasil, hewan pengerat ini memiliki komponen-komponen sistem kekebalan tubuh manusia.

Peneliti kemudian mengondisikan setiap tikus digigit oleh empat nyamuk dan memantau perilaku sel-sel kekebalan ini selama beberapa hari. Kemudian, mereka mengukur respons imun tikus saat bereaksi terhadap air liur nyamuk.

Air liur nyamuk bereaksi pada sistem kekebalan tubuh tikus di sumsum tulang dan sel-sel kulit. Efeknya bertahan hingga tujuh hari setelah gigitan.

Para peneliti mengatakan penemuan mereka dapat menjelaskan bagaimana jaringan ini mungkin bertindak sebagai inkubator virus dan membantu menyebarkan penyakit.

Sebelumnya pada tahun 2012, Rico-Hesse mencari cara untuk mengurai bagaimana virus Dengue menyebabkan demam berdarah. Kala itu dia menemukan hal aneh.

Tikus yang terinfeksi virus dari gigitan nyamuk bernasib jauh lebih buruk daripada tikus yang telah menerima suntikan virus tetapi belum digigit nyamuk. Melihat hasil ini, Rico-Hesse mundur selangkah.

Tampaknya gigitan nyamuk menyebabkan sistem kekebalan tubuh berperilaku lain, dan berpotensi menyebarkan penyakit.

Untuk mencari tahu, Rico-Hesse dan timnya membuat nyamuk Aedes aegypti yang kelaparan menggigit tikus yang telah menerima dosis sel punca manusia untuk membuat sistem kekebalan mereka lebih seperti manusia. Setiap tikus mengalami delapan gigitan nyamuk.

Kemudian tim memeriksa bagian-bagian berbeda dari sistem kekebalan. Mulai dari darah, sumsum tulang, limpa, dan sel-sel kulit, enam dan 24 jam setelah gigitan, serta tujuh hari kemudian. Pada saat itu, sistem kekebalan tubuh seharusnya kembali normal.

Sebaliknya, tim menemukan sel-sel kekebalan yang telah hilang dari kulit setidaknya enam jam pasca-gigitan kembali tujuh hari kemudian setelah tumbuh di sumsum tulang. Ini adalah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.

Jika sel-sel itu menampung virus, mereka bisa menyebarkannya ke nyamuk baru, yang kemudian bisa menulari orang lain.

Penelitian ini menunjukkan cara-cara baru gigitan nyamuk memengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia. Celakanya, efeknya lebih dari sekadar rasa gatal yang hilang sejenak saat digaruk.

“Memahami bagaimana air liur nyamuk berinteraksi dengan sistem kekebalan manusia tidak hanya membantu kita memahami mekanisme patogenesis penyakit tetapi juga dapat menyajikan kemungkinan untuk penanganan,” kata para peneliti dalam pernyataannya.

Peneliti mencatat, bagian yang paling menarik dari penelitian ini adalah fakta bahwa efek gigitan nyamuk berlangsung begitu lama. Respons kekebalannya sangat kompleks.

Rico-Hesse mencontohkan, kadar sitokin–protein yang membantu sel berkomunikasi selama respons imun–kadang meningkat dan kadang menurun. Tetapi ketika para peneliti mencampur sel kekebalan manusia dengan air liur nyamuk di laboratorium, mereka menemukan bahwa sitokin hanya meningkat seiring waktu.

Temuan baru ini menunjukkan betapa pentingnya melihat gambaran sistem kekebalan yang lebih lengkap, seperti pada tikus yang dikondisikan seperti manusia. Rico-Hesse mengatakan, selanjutnya dia ingin melakukan percobaan serupa tetapi dengan nyamuk yang terinfeksi virus seperti Zika atau demam berdarah.

“Virus mungkin menumpang di beberapa sel kekebalan yang membuat air liur nyamuk tertarik ke kulit setelah gigitan nyamuk,” katanya. Fakta bahwa sel-sel ini aktif selama tujuh hari menunjukkan bahaya bahwa virus mungkin lolos dari sistem kekebalan tubuh.

Rico-Hesse menambahkan, “Jika kita dapat menghalangi efek protein air liur nyamuk, maka mencegah sejumlah besar virus dan parasit yang ditularkan nyamuk bisa jadi hal yang memungkinkan.

Source: https://beritagar.id/artikel/sains-tekno/gigitan-nyamuk-mengganggu-sistem-kekebalan-tubuh

 

 

Posted on: June 21, 2018
WhatsApp us