Jentik dari Induk Nyamuk yang Terkena Fogging Bakal Lebih Kebal

TRIBUNKALTIM.CO BALIKPAPAN – Dr Hanifa M Denny SKM, Ketua Persatuan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Pusat, mengungkap, metode pengasapan dalam pemberantasan ternyata dianggap tidak efektif.

Demikian dia sampaikan dalam Workshop Petugas Surveilans Migrasi Malaria dalam Rangka Cegah Tangkal Penularan Malaria, di Hotel Platinum Balikpapan pada Selasa (7/3/2017).

Ia menjelaskan, proses pengasapan atau fogging pemberantasan nyamuk demam berdarah yang sering dilakukan lingkungan rumah tangga merupakan cara yang tidak maksimal.

Logikanya berdasarkan penelitian, nyamuk yang terkena paparan semprotan fogging biasanya ada yang tidak mati, masih bisa terbang menghindari kawasan bebas asap fogging.

“Siapa bilang akan hilang semua. Belum tentu juga,” ungkap Hanifa yang juga Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat dari Universitas Diponegoro Jawa Tengah ini.

Dia menerangkan, saat disemprot nyamuk terkena paparan asap, lalu masih hidup dan kemudian si nyamuk bertelur.

Si anak nyamuk ini lahir jadi jentik yang kena paparan asap fogging dari induknya.

Terkena paparan fogging si anak nyamuk lahir sebagai generasi yang kuat. Sejak lahir sudah terbiasa dengan zat paparan fogging nanti kalau kena paparan fogging tetap kebal.

“Pakai ikan cupang yang kita taruh di air menggenang lebih pas. Ikan akan memakan jentik-jentik. Tidak ada lagi jentik yang bakal jadi nyamuk,” kata Hanifa. (*)

 

Source: http://kaltim.tribunnews.com/2017/03/07/jentik-dari-induk-nyamuk-yang-terkena-fogging-bakal-lebih-kebal

Posted on: March 8, 2017
WhatsApp us